TAWURAN ADU GENGSI GESER EKSISTENSI PERGURUAN PENDEKAR JADI PERGURUAN PREMANISME
Kerusuhan berwarnakan tawuran sesama perguruan silat di Madiun, Jum'at (18/9/2020) menjadi penanda telah bergesernya eksistensi perguruan silat yang semula sebagai padepokan pilar penyangga kelestarian seni budaya bela diri asli kinarya leluhur Nusantara. Karena 'pola peristiwa' terjadinya pecah tawuran tersebut tetap merupakan pengulangan pola yang sama. Beberapa kasus terjadi di wilayah Jawa Timur seperti di Tulungagung. Ada juga di kabupaten Trenggalek, Bondowoso, Ponorogo, Nganjuk dan Madiun. Daerah-daerah tersebut bisa dibilang menjadi langganan tawuran antar perguruan silat.
Satu pola paling umum yaitu, diawali dengan saling mengejek perguruan lain. Dengan alasan agar anak muridnya makin percaya diri pada perguruan tempatnya belajar, beberapa oknum seniornya memprovokasi mereka bahwa perguruan lain tidak bagus, suka ini dan itu, materinya yang instan, dan masih banyak lagi. Berawal dari hal ini saja, anak murid yang masih polos akan menerima begitu saja tanpa mau konfirmasi ke perguruan yang disebutkan. Saling ejek tidak terhindar, baik secara langsung ketika bertemu bahkan yang paling sering adalah melalui media sosial. Endingnya bisa kita tebak bersama: saling tantang, provokasi anggota lain dan tawuran ala bar-bar terjadi tak lama kemudian.
Pola berikutnya adalah adu gengsi dengan melakukan aksi vandalisme seperti mencoret dinding-dinding dan jalanan dengan nama/logo perguruan mereka. Bahkan ada yang membangun tugu permanen di sekitar perempatan atau pertigaan agar terkesan bahwa “ini wilayah kami!”. Padahal belum tentu di sepanjang daerah itu semuanya adalah anggota perguruan yang bersangkutan. Pola ini seringkali sebagai ajang pamer oknum-oknum perguruan yang menginginkan dengan adanya tugu yang dibangun akan terbentuk opini di masyarakat bahwa makin banyak tugu yang berdiri, makin besarlah perguruannya. Ini kesalahan besar!
Aksi perusakan tugu pesilat terjadi di Kota Madiun pada Jum'at (18/9/2020) dini hari. Selain merusak tugu Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW), sebuah rumah juga jadi sasaran pelemparan batu. Sebelum aksi perusakan terjadi, ada konvoi rombongan pesilat mengendarai sepeda motor berputar-putar di depan Puskesmas Tawangrejo. Perusakan terjadi di Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo.
"Sebelum kejadian tawuran, di sini sudah mulai memanas. Rombongan motor berkonvoi di depan Puskesmas Tawangrejo, mutar-mutar," ujar Yadi, warga setempat kepada NotTalkOnly, Sabtu (19/9/2020).
Konvoi pemotor itu terjadi sehari sebelumnya, Kamis (17/9/2020) sekitar pukul 20.00 WIB. Pengendara motor yang berputar-putar itu mengenakan atribut pesilat.
"Ini Mas saya ada videonya. Sebelum kejadian perusakan ternyata malamnya sudah ada tanda-tanda. Ini mereka bleyer-bleyer di depan Puskesmas," ucap Yadi sambil menunjukkan sebuah video.
Pelaku perusakan ada sekitar puluhan orang, yang datang dari arah jalan raya selatan SPBU samping Terminal Purabaya Kota Madiun. Puluhan orang yang memakai atribut pesilat tersebut tiba-tiba melempari tugu lambang PSHW.
Pascakejadian itu, Jum'at malam puluhan pesilat PSHW berjaga di lokasi untuk antisipasi kejadian serupa. "Tadi malam ramai lagi di sini berjaga warga Tawangrejo dan PSHW perwakilan setiap kelurahan Kecamatan Kota Madiun," kata Agus, yang juga pesilat.
Dalam insiden ini, selain terjadi kerusakan pada tugu Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW), ada satu warga yang terluka, yakni Rizky (30). Ia mengalami luka di wajah terkena lemparan batu.
Insiden ini memicu pembalasan, di Jalan Rawa Bhakti dan Jalan Trunojoyo, Sabtu (19/9/2020) dini hari. Tugu Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dirusak dan dilempari cat.* (nto/ist: humaspolresmadiun, warga)
Komentar
Posting Komentar